YPYM Icon YPYM ID
Blog 27 Agu 2026, 21.55 7 menit baca
Terakhir diperbarui: 28 Agu 2026, 13.01 • Diedit oleh Choiriyah Indriyati Putri

Nonmigas Jadi Penopang Neraca Dagang RI Ketika Defisit, Saatnya Eksportir Naik Kelas Lewat Strategi Digital

Ringkasan Eksekutif Meskipun ekspor nonmigas menjadi penopang utama neraca dagang RI di tengah tingginya defisit migas, ketergantungan pada kelompok komoditas terbatas membuat daya saing nasional rapuh. Untuk "naik kelas", eksportir nonmigas harus ..

Hi, I'm Riri. I’m a professional writer with over 5 years of experience specializing in Indonesian content. I help brands and businesses connect with their audience through clear, compelling local storytelling.

Nonmigas Jadi Penopang Neraca Dagang RI Ketika Defisit, Saatnya Eksportir Naik Kelas Lewat Strategi Digital
Di tengah melebarnya kerugian pada neraca perdagangan migas akibat gejolak harga energi global, sektor nonmigas hadir sebagai penopang perekonomian Indonesia. Namun, ketergantungan ekspor nasional pada komoditas mentah tertentu masih memicu kerentanan pasar. Untuk menjaga keberlanjutan surplus dan memperluas jangkauan pasar ekspor, para pelaku usaha nonmigas perlu memperkuat fondasi bisnisnya. Penerapan strategi digital yang tepat menjadi kunci utama agar eksportir lokal lebih mudah ditemukan dan dipercaya oleh buyer internasional di era berbasis AI saat ini.

Ringkasan Eksekutif

Meskipun ekspor nonmigas menjadi penopang utama neraca dagang RI di tengah tingginya defisit migas, ketergantungan pada kelompok komoditas terbatas membuat daya saing nasional rapuh. Untuk "naik kelas", eksportir nonmigas harus menggeser fokus ke visibilitas digital global. Penerapan strategi SEO modern dan optimasi GEO menjadi kunci vital agar kapabilitas dan katalog produk eksportir Indonesia mampu menembus algoritma pencarian global serta menjadi jawaban utama saat buyer internasional mencari pemasok via AI.

SPONSORED
CTA Image

Kuasai Strategi Digital untuk Eksportir yang Siap Ekspansi ke Pasar Global

Penjualan berakhir 08 September 2026 23:59 WIB

Beli sekarang, Rp332.500

Setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia akhirnya berbalik defisit pada Mei 2026. Bank Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada bulan tersebut.

Angka ini tentu menarik perhatian para pelaku bisnis, terutama mereka yang bergelut di bidang ekspor-impor. Namun, jika dilihat lebih jauh, persoalannya ternyata tidak sesederhana penurunan ekspor Indonesia.

Dalam hal ini, ada perbedaan yang cukup jelas antara sektor migas dan nonmigas. Ketika migas semakin menekan neraca perdagangan, ekspor nonmigas Indonesia justru masih mampu bertahan dan menjadi penopang utama.

Berakhirnya Rekor Surplus 72 Bulan Beruntun

Menurut catatan Bank Indonesia, defisit pada Mei 2026 utamanya disebabkan oleh membesarnya defisit perdagangan migas. Pada saat yang sama, neraca perdagangan sektor nonmigas malah masih mencatat surplus.

Defisit migas melebar menjadi US$3,76 miliar, dan salah satu penyebabnya adalah penurunan ekspor migas yang lebih dalam dibandingkan penurunan impornya. Sementara itu, perdagangan nonmigas masih surplus US$2,15 miliar, dengan nilai ekspor nonmigas mencapai US$22,44 miliar.

Pada Mei 2026, total impor Indonesia diketahui mencapai US$24,8 miliar. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan total ekspor yang berada di angka US$23,2 miliar. Dibandingkan dengan April 2026, total ekspor tersebut turun sebesar 8,30 persen.

Penurunan ini terutama berasal dari sejumlah komoditas utama, seperti minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, mesin mekanis, tembaga, serta produk kimia.

Migas Jadi Beban Utama di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Dewan Ekonomi Nasional melalui Trade Brief Mei 2026 menjelaskan bahwa pelebaran defisit migas juga berkaitan dengan tingginya harga energi global, Kondisi tersebut tidak lepas dari ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, sebelum akhirnya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat tercapai pada pertengahan Juni 2026.

Dengan kondisi seperti ini, tekanan yang terjadi di sektor migas banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Pelaku usaha di dalam negeri tentu tidak punya banyak ruang untuk mengendalikan perubahan harga energi global maupun perkembangan konflik geopolitik.

Tekanan juga terlihat dari sisi ekspor. Pada Mei 2026, nilai ekspor Indonesia terkontraksi 5,7 persen secara tahunan. Padahal, pada April 2026, ekspor masih tumbuh 22,0 persen.

Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan global terhadap sejumlah komoditas utama, termasuk crude palm oil serta besi dan baja. Meski begitu, beberapa komoditas masih menunjukkan pertumbuhan. Ekspor nikel dan turunannya, bahan bakar mineral, serta produk kimia tetap meningkat.

Di sisi lain, impor justru naik. Peningkatan ini dipengaruhi oleh harga yang lebih tinggi serta bertambahnya impor bahan baku, barang penolong, dan barang modal. Kondisi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya belanja modal pemerintah dan investasi sektor swasta.

Struktur Ekspor Indonesia Masih Terlalu Bergantung pada Beberapa Komoditas

Ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan ketika melihat kondisi perdagangan Indonesia saat ini. Struktur ekspor Indonesia masih cukup terkonsentrasi pada beberapa kelompok komoditas.

Selama periode 2021 hingga 2025, sekitar 65,98 persen ekspor nasional berasal dari 10 kelompok komoditas. Bahan bakar mineral menjadi kontributor terbesar, disusul minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, serta kendaraan bermotor.

Kondisi ini membuat ekspor Indonesia cukup mudah terkena dampak ketika beberapa komoditas utama mengalami tekanan dalam waktu yang bersamaan.

Maka dari itu, berakhirnya surplus setelah enam tahun berturut-turut merupakan sinyal yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pelemahan pada sejumlah sektor yang selama ini menjadi penopang ekspor nasional.

Karena itu, persoalan neraca perdagangan perlu dilihat dalam jangka yang lebih panjang. Indonesia perlu memiliki struktur ekspor yang lebih beragam dan mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Dengan begitu, perdagangan tidak terlalu bergantung pada naik turunnya harga atau permintaan beberapa komoditas utama.

Jika melihat data Januari hingga Mei 2026, tren perdagangan Indonesia sebenarnya masih cukup terjaga. Menurut BI, neraca perdagangan pada periode tersebut masih surplus US$4,03 miliar.

Nilai ekspor mencapai US$115,4 miliar, naik 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, impor tumbuh jauh lebih cepat. Nilainya mencapai US$111,3 miliar atau naik 15,24 persen. Jadi, meskipun surplus masih bertahan secara kumulatif, ruang yang tersedia semakin tipis.

Juni 2026 Memberikan Sinyal Perbaikan

Memasuki Juni 2026, kondisi perdagangan mulai menunjukkan perbaikan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa ekspor nonmigas pada Juni mencapai US$24,39 miliar. Angka tersebut naik 8,68 persen dibandingkan dengan Mei 2026 yang sebesar US$22,45 miliar.

Surplus perdagangan nonmigas pada Juni juga meningkat menjadi US$3,04 miliar. Perbaikan ini membantu mempersempit defisit perdagangan secara keseluruhan menjadi US$0,45 miliar. Sebagai pembanding, defisit pada Mei mencapai US$1,61 miliar.

Total ekspor Indonesia yang mencakup migas dan nonmigas juga meningkat. Pada Juni 2026, nilainya mencapai US$25,46 miliar atau naik 9,72 persen dibandingkan dengan Mei. Volume ekspor ikut naik 3,31 persen menjadi 56,52 juta ton.

Pergerakan ini cukup menarik. Ketika tekanan pada beberapa komoditas utama mulai mereda, ekspor nonmigas bisa kembali bergerak naik dalam waktu relatif cepat.

Nonmigas Menjadi Penopang Utama Sepanjang Semester I 2026

Apabila dilihat sampai akhir Juni, peran sektor nonmigas dalam perdagangan Indonesia semakin terlihat.

Total ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar. Nilainya naik 4,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika ekspor tercatat sebesar US$135,23 miliar.

Meski ekspor tumbuh, neraca perdagangan kumulatif hanya mencatat surplus US$3,58 miliar. Sektor nonmigas memberikan kontribusi surplus sebesar US$19,35 miliar. Sebaliknya, sektor migas mengalami defisit US$15,77 miliar.

Artinya, sektor nonmigas punya peran yang sangat besar dalam menjaga neraca perdagangan Indonesia. Tanpa surplus dari sektor ini, neraca perdagangan nasional kemungkinan sudah berada di zona negatif sejak semester pertama 2026.

Kenapa Ekspor Nonmigas Penting untuk Masa Depan?

Dari sini, kita bisa melihat bahwa sektor nonmigas masih menjadi salah satu kekuatan utama perdagangan Indonesia. Ketika sektor migas menghadapi tekanan akibat perubahan harga energi global, nonmigas masih mampu menjaga kinerja ekspor.

Namun, ada pekerjaan rumah yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Sektor nonmigas sendiri masih bergantung pada beberapa komoditas utama dan sangat dipengaruhi oleh kondisi permintaan global.

Pelemahan ekspor sawit dan besi baja pada Mei 2026 menjadi contoh yang cukup jelas. Ketika permintaan global berubah, dampaknya bisa langsung terasa pada nilai ekspor Indonesia.

Pemerintah tampaknya mulai mengantisipasi kondisi tersebut. Kementerian Perdagangan (Kemendag) saat ini telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang dengan negara mitra. Selain itu, dua perjanjian masih dalam proses ratifikasi dan 13 lainnya masih berada dalam tahap perundingan.

Kemendag juga mengoptimalkan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara untuk membantu memperluas akses pasar ekspor, termasuk bagi UMKM. Sistem elektronik Surat Keterangan Asal atau e-SKA juga terus diperluas untuk ekspor ke Uni Emirat Arab, Hong Kong, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.

Berbagai langkah tersebut tentu membuka lebih banyak peluang bagi eksportir Indonesia. Pasar baru semakin terbuka dan proses administrasi ekspor juga semakin dipermudah. Namun, ada satu hal yang perlu berjalan bersamaan. Produk Indonesia harus bisa ditemukan oleh calon buyer di pasar tersebut. Di sinilah kesiapan digital eksportir mulai memainkan peran yang semakin penting.

Eksportir Nonmigas Perlu Mulai “Naik Kelas” dengan Strategi Digital

Cara buyer B2B mencari supplier sekarang sudah banyak berubah. Mereka tidak selalu mengandalkan mesin pencari dengan mengetik kata kunci dan membuka satu per satu website perusahaan.

Semakin banyak buyer yang mulai menggunakan AI untuk mencari informasi, membandingkan supplier, hingga mendapatkan rekomendasi perusahaan yang dianggap sesuai dan kredibel.

Perubahan perilaku ini membuat keberadaan digital menjadi semakin penting bagi eksportir. Website yang sulit ditemukan, informasi perusahaan yang tidak lengkap, atau data produk yang tidak tersusun dengan baik bisa membuat sebuah bisnis kehilangan kesempatan untuk dilirik buyer.

Padahal, membuka akses pasar saja belum cukup. Eksportir juga perlu memastikan bahwa ketika buyer dari luar negeri mencari produk atau supplier dari Indonesia, bisnis mereka benar-benar muncul dan terlihat meyakinkan.

Jadi, ada dua pekerjaan yang perlu dilakukan secara bersamaan. Pemerintah membuka akses pasar dan membantu memperlancar perdagangan, sementara eksportir perlu memastikan bisnisnya siap mengambil peluang tersebut.

Saat ini, sektor nonmigas memegang peran besar dalam menjaga perdagangan Indonesia. Karena itu, eksportir di sektor ini juga perlu mulai memperkuat fondasi bisnisnya, termasuk dari sisi digital.

Bisnis perlu lebih mudah ditemukan oleh buyer, memiliki informasi yang jelas, terlihat kredibel di mesin pencari dan AI, serta mampu membangun kepercayaan sejak calon buyer pertama kali mengenalnya.

Jika Anda adalah eksportir yang sedang menyiapkan ekspansi ke pasar global, sekarang bisa menjadi waktu yang tepat untuk mulai memperkuat fondasi digital bisnis.

SPONSORED
CTA Image

Pelajari strategi konkretnya melalui event DetikCourse bertajuk “Kuasai Strategi Digital untuk Eksportir yang Siap Ekspansi ke Pasar Global” bersama Andaru Pramudito Suhud dan Rochman Maarif selaku expert. Mari siapkan bisnis Anda agar lebih mudah ditemukan dan dipercaya oleh buyer global.

Kelas SEO-GEO fokus untuk eksport

— Halo, saya Riri. Saya seorang penulis profesional dengan pengalaman lebih dari 5 tahun, khusus menangani konten berbahasa Indonesia. Saya membantu berbagai brand dan bisnis terhubung dengan audiens mereka lewat storytelling lokal yang jelas dan memikat. Saat ini, saya juga aktif sebagai penulis di salah satu Perusahaan Media Digital di Indonesia.

Key References:

  • Bank Indonesia - Neraca Perdagangan Mei 2026 Mencatat Defisit (Siaran Pers No.28/130/DKom): https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2813026.aspx
  • Dewan Ekonomi Nasional - Trade Brief Bulan Mei 2026: https://dewanekonomi.go.id/publikasi/trade-brief-bulan-mei-2026
  • NEXT Indonesia Center - Mesin Ekspor Indonesia Melemah, Rekor Surplus Perdagangan 72 Bulan Berakhir: https://nextindonesia.id/Update/2026/07/20/285/Mesin-Ekspor-Indonesia-Melemah,-%0D%0ARekor-Surplus-Perdagangan-72-Bulan-Berakhir 
  • Badan Pusat Statistik - Nilai Neraca Perdagangan: https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDk4IzI=/nilai-neraca-perdagangan--maret-2024---.html
  • Badan Pusat Statistik - Nilai Ekspor Migas-NonMigas: https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTc1MyMy/nilai-ekspor-migas-nonmigas.html